(Review) Wala Kif 

Judul: Wala Kif.

Artis: Fayrouz. 

Tahun rilis: 2002.

Tracklist:

  1. Sabah wu Masa (Morning and Evening)
  2. Shu Bkhaf (Mana de Carnaval) (How I Fear)
  3. Sobhil Jiz (My Comrade)
  4. Tinzakar ma Tinaad (May History not Repeat Itself)
  5. Ya Mariamu (Saint Mary)
  6. Ana Feezani (I feel So afraid)
  7. Bizakker Bil Kharif (Les Feuilles Mortes)  (He Reminds me of Autumn)
  8. La Wallah (La Bamba) (Never)
  9. Inshallah Ma Bu Shi 
  10. Bizakker Bil Kharef take 2

Ucapkan kata Fairuz kepada seseorang yang berasal dari Timur Tengah dan Anda akan dihujani berbagai macam pujian untuknya. Sepertinya hampir semua orang di jazirah Arab dan Maghribi mengenali dan menyukai penyanyi asal Lebanon ini. Tidak heran karena penyanyi yang kini menginjak usia 82 tahun ini memiliki karya yang apik dan nuansa yang berbeda dari penyanyi maupun musisi sebelumnya. Bersama dengan Ziad dan Assi, anak dan suaminya, Fairuz merevolusi skena musik Arab. 

Saya pun terkena pesona penyanyi bernama asli Nouhad Wadi Haddad ini. Suaranya yang berat rendah namun bertenaga, lagunya yang ditata dengan apik lengkap dengan nuansa jazz, hingga bagaimana dia bisa membawakan sebuah lagu yang apik yang mampu membuat saya faham akan kesedihan di balik suatu karyanya walau saya sendiri tidak paham bahasa Arab. 

Album ini sekali lagi saya dapatkan melalui Spotify. Mengingat Fairuz itu pasti bagus tanpa menunggu lama saya mengunduh semua albumnya ke katalog lagu akun saya.

Wala Kif, yang berarti “Lalu Bagaimana” adalah album yang dirilis di tahun 2002. Album ini merupakan album pertama yang proses kreatif nya dipegang sepenuhnya oleh Ziad Rahbani, sang putra.  Ziad, si jenis musik, benar-benar menampilkan semua warna dan ciri khas nya di album ini. 

Wala Kif menampilkan sisi Fairuz yang berbeda. Bukan Fairuz yang dengan bangga bernyanyi “Nassam Alayna” atau “Bayt Sghir” atau sosok yang bertanya “Saaltak Habibie” dengan elegan. Di sini Fairuz adalah sosok yang lelah, putus asa mencari cinta dan pegangan hidup. Seperti yang ia utarakan di lagu pembuka, Sabah wu Masa:

Day and evening

The unforgettable thing 

I left the love and took the misery

Nuansa ini pun akan kita jumpai di lagu “Shu Bkhaf” dan “Ana Feezani”. 

Tapi bukan berarti hanya kesedihan yang akan kita temui di sini. Album ini diracik begitu rupa, diawali dengan lagu pedih, dan berangsur angsur suasana menjadi (sedikit) ada harapan, walau kemudian juga diselingi dengan kesedihan. Karena memang begitulah cinta, deritanya tiada akhir. Konon begitu kata Chu Pat Kay. 

Sebagai album yang ditangani penuh oleh Ziad, maka album ini kental dengan unsur Jazz. Bahkan bisa dibilang Wala Kif adalah album Jazz berbahasa Arab. Ziad yang seorang sosialis komunis pun tidak malu menampilkan identitas nya di lagu “Sobhil Jiz” alias “My Comrade”

Sebagai seorang jenius musik, Ziad mampu meracik Wala Kif sebagai album yang enak didengar (walau isinya hanyalah keputusasaan). Ya, beberapa lagu adalah kover dari lagu lagu yang sudah ada. Lagu Les Feuilles Mortes milik Yves Montand dia gabah menjadi lagu swing jazz dengan permainan piano memukau dari pria berusia 60 tahun ini. Ziad juga mampu meramu beberapa unsur musik menjadi begitu menarik walau tetap dalam benang merah Jazz. Anda bisa mendengar nya di “Tinzakar ma Tinaad” yang memasukkan unsur trompet ala Catalan atau “Inshallah Ma Bu Shi”, sebuah lagu ironi yang menyindir sosok yang meninggalkan kita. 

Terkadang perubahan itu perlu adanya dan itulah yang dilakukan album ini terhadap Fairuz. Apakah perubahan ini berarti buruk? Sebaliknya, Wala Kif menampilkan Fairuz dalam dimensi berbeda yang segar. Inilah album yang bisa dicerna oleh kalangan yang lebih luas karena dibalut dengan suasana Jazz. Anda pun bisa menikmatinya sambil menyesap teh chai latte sembari menikmati rintik hujan di halaman belakang. 

Akhir kalam, ahlan! 

BGM: Su Bkhaf – Fairuz. 

Camilan: mie gelas duo

Advertisements

Fairouz Dan Elegannya Sakit Hati

Fairouz. Entah sejak kapan saya mulai tertarik menikmati karyanya. I’ve heard her name here and there tapi tidak pernah mengusik rasa penasaran saya yang selo ini. Salah satu Twitter persona favorit saya, yang keturunan Lebanon, adalah salah satu penggemar beratnya. As far as say that she’s the one that unite Arabs. Hmm…sebegitu hebatnya kah? Memang dia sepopuler apa sih? Saya pun semakin terusik saat salah satu kolega, yang berasal dari Saudi, suatu hari berkata “you have to listen to Fairouz’s song, all of it“.  Akhirnya rasa penasaran saya pun tak terbendung. Saya membuka katalog musiknya di Spotify dan menyimpan semua lagunya di katalog musik saya.

Oh sebelumnya lebih baik saya jelaskan. I’m not talking about her Continue reading “Fairouz Dan Elegannya Sakit Hati”