Jersey, Poster, dan Sang Kapten

Mungkin saya harus mengucapkan banyak terimakasih pada KFC. Bukan Koisuru Fortune Cookies dan bukan juga maksudnya menjadi antek kapitalisme. Namun perusahaan milik Kolonel Sanders ini mengenalkan salah satu hal terpenting dalam hal ini. Tenang, bukan idol, walau dua minggu lalu YONNNAAAAAAAAAAAAAA dan kawan kawan jeketiempatlapan lainnya menyambangiKFC Mirota untuk menguras duit para wota jualan CD So Long…So LOOOONG SO LOOOONGGGG JYA MATTA NE

Tersebutlah di kota saya, dulu…20 tahun lalu, keberadaan KFC merupakan hal langka nan mewah dan ditunggu tunggu. Bagaimana tidak, mereka hanya datang setahun sekali. Tahu trailer besar nan panjang bagai ular naga itu, kan? Ya kira-kira begitu lah penampakannya. Momen liburan caturwulan kedua pun menjadi momen yang ditunggu karena itulah saat trailer KFC datang dan mangkal selama sebulan penuh.

Suatu hari di tahun 1998.

Saya pulang dengan wajah sumringah. Membawa sekantong KFC plus hadiah lainnya. Ya, hari itu saya kebagian lucky draw dari Pepsi dan berhak untuk membawa pulang botol minum serta poster bergambar Alessandro del Piero dan Edgar Davids. Saya masih ingat betul bentuk botol minumnya. Besar dan tinggi, kira-kira berkapasitas 750 ml, didominasi warna biru , dan di atasanya bertengger tutup dengan motif bola sepak hitam-putih berbentuk setengah lingkaran, lengkap dengan sedotannya. Senang? Tentu saja sangat senang. Setiap hari saya bawa termos itu ke sekolah.

Posternya saya pampang di balik meja belajar. Jadi bisa saya pandangi sebelum tidur. Itu dia, Del Piero dan Davids, dua punggawa Juventus di kala itu. Mereka berdua terlihat sangat keren dengan pose menendang bola. Wabilkhusus, del Piero dipotret dengan pose tendangan bebasnya yang terkenal maut itu.

Demam Piala Dunia yang ditambah era kejayaan Serie-A Italia membuat saya mengenal lebih dekat sosok Alex dan Juventus. Semasa sahur, sembari terkantuk-kantuk, saya menonton pertandingan Juve yang disiarkan di televisi Rajawali. Untuk kemudian bermain bola serta meracik mercon di halaman masjid bersama teman-teman sekampung selepas Subuh. del Piero, Vieri, Salas, Nedved, Davids, Totti, Peruzzi, menjadi nama-nama yang kami kagumi dan idam-idamkan. Saat bermain bola itulah kami merasa menjadi idola idola kami. Saya tentu saja berkhayal menjadi del Piero, walau saat itu lebih sering menjadi bek.

14919844016771141431526

Di tahun itu pula saya mendapat hadiah besar: sebuah jersey Juventus dengan nomor punggung 10 bertuliskan Del Piero. Jersey klasik itu, dengan logo Kappa, strip hitam-putih, logo klasik Juventus, dan tulisan sponsor Liberta Digitale.  Selama beberapa hari saya tidur sambil memeluk jersey itu. Mencium aroma jersey barunya. Bermimpi melihat sang Kapten melesakkan gol dan berlari mengitari Delle Alpi.

Hingga tiba waktunya bermain bola dengan teman-teman satu sekolah. Saya kenakan jersey itu dengan penuh kebanggan, tidak peduli dengan kualitas jersey yang mungkin KW sekian, dengan bahan yang panas dan kasar. Ah…peduli amat! Ini jersey Juventus, bung! Saya sedang menjadi del Piero. Bukan, sayalah del Piero! Saya kenakan jersey itu dan bermain dengan semangat yang berlipat-lipat. Begitu pulang, saya cuci untuk kemudian dipakai lagi keesokan harinya. Begitu terus, hingga kegiatan itu berhenti beberapa tahun kemudian karena saya memecahkan kaca ruang guru.

Dan Alex? Sosoknya terus menjadi idola saya. Ia yang tidak pernah meninggalkan klub walau Juventus harus terdegradasi terkena fitnah skandal Calciopoli. “A gentleman never leaves his Lady” itulah kata-katanya yang selalu terpatri di batin Juventini. Alex adalah idola, Alex adalah sang kapten, Alex adalah panutan, Alex adalah sosok yang mampu membuat saya mencintai olahraga ini.

But all good things come to an end. Tahun 2012, Juventus tidak memperpanjang kontraknya. Alex pun harus mengucapkan selamat tinggal pada klub yang sudah dibelanya selama 19 tahun. Dan di sebuah gerbong kereta yang berjalan lambat menuju Yogyakarta, seorang manusia mengusap air matanya saat membaca tulisan perpisahan idolanya….

“Un Capitano

C’e Solo Un Capitano”

Gumamnya sambil menghapus air matanya yang semakin deras.

 

BGM: Un’estate Italiana – Gianna Nannini, Eduardo Bennato

Cemilan: Nasi Tahu Telor D’Gejrot