Sedang Apa 

Masih tetap gegoleran seperti biasa.

Meratapi nasib. Kadang.

Streaming drama Jepang.

Memandangi gadis gadis imut nan cantik laptop dan menonton beberapa judul acara yang sudah diunduh.

Membuka ponsel dan kembali geleng geleng karena Maiyan “ayune ora lumrah”.

Seperti itu saja.

Seperti hari hari biasa saja.

Karena setiap hari adalah akhir pekan untuk saya.

BGM: Tango ya Zanbak – Fairuz.

Cemilan: Nescafe Blend and Brew.

Mengejutkan! Kini Kloning DNA Manusia Sudah Bisa Dilakukan!

15802165_207557476316978_4451108074677075968_n.jpg
Dua orang yang berbeda

Usaha terbaru Aki-P untuk me-Maiyan-kan (bukan me-Maya-kan, tolong bedakan) Nogizaka dan menjadikan Jepang sebagai Cahaya Asia.

img_20170324_211519.jpg

Ini pasti konspirasi Wahyudi dan Rhemason hmmm hmmm…

BGM: Influenza Influencer – Nogizaka46

Cemilan: H2O

To Dare is To Do 

Dari sekian banyak tokoh Perang Bintang (STAR WARS) yang ada, Master Yoda adalah favorit saya. Alasannya, karena dia bijaksana dan mampu berpikir jernih tanpa tergoda harta tahta wanita. Salah satu kutipan legendaris beliau yang paling saya sukai adalah ini:

Maaf ini Yoda Yuki.

 

Maksud saya ini:

Tapi selain itu,  Master Yoda juga sosok yang mampu dengan bijak memaknai arti kekuasaan dan otoritas.

Kekuasaan itu bagaikan dua sisi pedang sakabatou Kenshin, maksud saya, dua sisi mata pisau. Ia bisa berguna bagi banyak orang, namun jika diselewengkan bukan tidak mungkin banyak orang yang akan menderita karenanya.

Kekuasaan adalah istilah asing dalam kehidupan saya. Karena jarang saya berada di tampuk nya. Bukan ingin melarikan diri tapi kekuasaan adalah amanah yang berat yang saya merasa tidak pantas untuk menanggungnya #abotcahomonganku.

Namun baiklah mari kita berandai andai… Oke? Okelah kalau begitu, apa yang terjadi jika saya yang memegang tampuk kekuasaan di almamater (((tercinta))). Langkah pertama, menggratiskan biaya pendidikan.

LOH PIYE KUWI BOS KU? Sebentar bos, ngopi dulu. Ya, saya berpendapat bahwa pendidikan itu adalah hak bagi setiap warga negara. Garis bawahi hal ini  SETIAP WARGA NEGARA. Bukan hanya yang berpunya dan mau membayar ratusan juta demi menyandang gelar “mahasiswa gajah mada”.

Ada banyak kalangan yang mungkin lebih berhak dan lebih mampu mengikuti dunia perkuliahan namun tidak mampu membayar uang masuk ataupun ukt yang berjuta juta itu. Apakah kalangan yang seperti ini dilarang menuntut ilmu di sini? Otentu tidak. Negara perlu hadir dalam aspek ini, seperti yang termaktub dalam pembukaan uud 1945, mencerdaskan kehidupan bangsa. Siapakah bangsa itu? Tentu semua kalangan, bukan hanya kalangan berpunya.

Lho tapi bos, buat apa mikir pendidikan? Makan saja susah kok mikir sekolah!? Anda tahu…setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki apa yang diucapkan Kaisar? “Berapa banyak guru yang tersisa?”  Ya, dia tidak bertanya berapa banyak beras yang tersisa atau cadangan devisa negara. Ia bertanya tentang guru, tentang tenaga pengajar, tentang pendidikan. Karena pendidikan adalah sarana vital untuk membangun satu bangsa. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya. Begitulah yang ada di lagu kebangsaan kita.

Setelah itu perhatian saya akan tercurah untuk membangun infrastruktur pendukung. Yang pertama adalah memperbaharui buku buku yang ada di perpustakaan. Konon, katanya sakitnya karena diguna guna Universitas ini merupakan kampus terbaik di Indonesia tapi saya tidak melihatnya. Buku buku yang ada masih buku buku keluaran lama, di saat informasi dan perubahan di dunia luar terjadi begitu cepat, kita juga harus mengimbanginya. Tidak lucu mengkaji masalah media sosial dengan menggunakan teori dari buku berusia 4 dekade misalnya. Buku buku yang tersedia di perpustakaan kampus harus relevan dengan kondisi yang ada di lingkungan sekitar.

Termasuk dalam hal ini adalah membebaskan akses Internet. Asal tahu saja, kebebasan mendapatkan informasi adalah salah satu hak asasi. Jadi jangan rasanya di kampus yang katanya lembaga demokrasi tapi akses informasi dibatasi oleh id dan password serta kuota harian.

Yang terakhir adalah menjadikan kampus ini lebih asri. Caranya dengan membatasi penggunaan kendaraan bermotor. Loh capek bos? Lho tunggu sebentar. Pembatasan ini dibarengi dengan solusi bernama sepeda kampus. Dan di sini kampus menyediakan dua pilihan yang bisa dipilih mahasiswa sesuai dengan kebutuhannya: sepeda biasa atau sepeda listrik. Ya tentu sebagai konsekuensi nya akan ada banyak pos sepeda bertebaran di seluruh penjuru kampus ini. Tapi ini investasi yang murah jika dibandingkan dengan harga yang harus dibayar oleh adanya peningkatan polusi.

Dan selanjutnya saya ngantuk, jadi biarkan saya lanjutkan angan angan ini di dunia mimpi. Sampai jumpa.

BGM: Ana la Habibi – Fairuz

Cemilan: Mie cup ABC Selera Pedas rasa Gulai Ayam Pedas

(Review) Snack JUJU Yoru No Request

00000003465913_A01[1]

JUJU. Saya agak lupa lupa ingat awal mula saya mengenal dan menggemari karya penyanyi jebolan Sony Music Entertainment ini. Mungkin, mungkin lho ya, sejak awal 2013…saat itu seorang teman dengan heboh memberitahu bahwa “Daesung rilis album Jepang, lho! Dengerin deh”. Saat itu saya tertarik dengan lagunya yang berjudul “Yasashisa de Afureru You Ni”, yang usut punya usut merupakan lagu yang dinyanyikan oleh JUJU. Tak butuh beberapa lama, saya pun mulai menikmati karya-karyanya. Continue reading “(Review) Snack JUJU Yoru No Request”

(Review) Sony MDR EX100 LP

Tak ada yang abadi. Begitu kata Peterpan. Memang  begitulah kenyataannya. Konon tidak ada yang abadi di dunia ini. Kecuali Aki-p dan Mbak Nyan-Nyan. Tapi tidak perlulah kita bahas ini panjang lebar. 

Tak ada yang abadi. Begitu pula dengan riwayat SoundMagic E10S milik saya. In-ear monitor yang sudah tiga tahun menemani dalam berbagai suasana hati. Suaranya makin lama makin kecil dan di satu waktu hilang sama sekali.  Ah, tunai sudah janji bakti. Terimakasih atas segalanya. 

Tanpa menunggu lama, saya pun bergegas mencari penggantinya. Sempat terbersit pemikiran untuk memakai IEM rilisan Audio-Technica namun saya kurang sreg dengan karakter suaranya. Akhirnya saya teringat jika di toko elektronik dekat rumah ada stand khusus produk Sony. Lengkap dengan jajaran earphone nya. Tak lama kemudian saya pun menuju ke sana. 

Tapi malang tak dapat diraih dan untung tak dapat ditolak, saya tidak mendapati stand earphone di sana. Apakah ini akhir cerita kita, Kassandra? Otentu tidak. Karena ternyata stand nya digeser di pojok. 

Seketika saya ambil earphones dengan wadah mungil dan warna kuning ngejreng. Sony MDR EX100 LP.  Itu tulisan yang terpajang di label nya. Produk yang sudah diskontinu karena sudah dirilis lina tahun lalu. Sempat agak khawatir dengan fakta itu but hey it’s Sony. Kualitas nya pasti terjamin. 

Saya pun langsung melakukan tes suara dengan lagu lagu ini:

Mizu umi – Shibasaki Kou. 

YOLO – BAND-MAID. 

Deeper Deeper – One Ok Rock. 

1MM – Perfume. 

39 dan Bohemian Rhapsody – Queen. 

Take Me Higher – Juju. 

Kurenai – X Japan. 

(semua diputar memakai perangkat Sony Walkman NWZ-B183F)

Seperti yang sudah sudah, ekspektasi saya kembali dilampaui oleh Sony. Bahkan tanpa proses burn-in, IEM ini mampu menghasilkan karakter suara yang langsung klik dengan yang saya inginkan. 

Cabikan bass Misa terdengar jelas di lagu YOLO, gebukan drum Yoshiki dan Roger Taylor terasa cukup nendang di telinga. Tapi karakter bass yang kuat ini tidak serta merta menghilangkan suara lainnya. Treble dan mid pun terdengar jelas tanpa terasa over-stretching. Suara soprano Nana Mouskouri pun terdengar jernih dan menghanyutkan (saya sampai ketiduran). 

Pendek kata, IEM ini mampu menyajikan sensasi menikmati musik yang seimbang. Ia dapat menampilkan dentuman bass dengan baik namun di sisi lain suara vokal dan nada nada lain juga dapat terdengar dengan jernih. 

Dari segi fisik, build quality Sony terkenal dengan kualitas tinggi dan produk ini pun bukan pengecualian. Unit iem didesain dengan driver bertipe dynamic berukuran 9mm,  nyaman digunakan selama berjam-jam karena ukurannya yang kecil dan sangat ringan. Serius, saya kadang lupa kalau saya pakai earphone. Unit milik saya sendiri dibuat dari plastik dengan finishing aluminium warna kuning ngejreng. Bukan warna favorit saya tapi yaudahgapapa. Walau dari plastik tapi finishing yang rapi membuatnya tidak terkesan murahan. 

Kabelnya sepanjang 1,2 meter. Tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek. Asyiknya kabelnya bertipe tangled free alias tidak gampang kusut. Fitur remeh tapi penting. Karena berapa banyak waktu yang terbuang hanya untuk mengurai uwel uwelan kabel kusut? 

Overall, saya sangat puas dengan IEM ini. Apakah ia bisa bertahan lama? Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang. 

20 Februari 2015: Ketika Impian Menjadi Nyata (pt.3)

(part 1) (part 2)

Hari demi hari t’lah kulewati
Namun dirimu selalu di hatiku

Dan hari hari pun berlangsung seperti biasanya. Berangkat kerja, bermandi peluh mencari uang (dalam arti sebenarnya), ikut menagih hutang, pulang ke kantor, ngopi-ngopi, rapat, buat laporan, pulang, nonton idol, dan tidur. Tiga minggu kembali berlalu tanpa ada kabar tentang konser bersama AKB dan JKT. Harapan di hati ini menipis dan berubah menjadi skeptis.

“ya sudahlah mungkin ngga jadi” begitu pikir saya setiap hari. Agak sedih juga, karena mungkin ini pertama dan terakhir kalinya saya nonton konser dan menjumpai sosok yang biasanya hanya saya lihat di layar monitor sebelum tidur. Tapi ya…mau bagaimana lagi. Mau unjuk rasa di depan Istana Negara dan atau Kedutaan Jepang juga rasanya kurang kerjaan dan saya juga terlalu malas untuk itu.

Continue reading “20 Februari 2015: Ketika Impian Menjadi Nyata (pt.3)”