20 Februari 2015: Ketika Impian Menjadi Nyata (pt.3)

(part 1) (part 2)

Hari demi hari t’lah kulewati
Namun dirimu selalu di hatiku

Dan hari hari pun berlangsung seperti biasanya. Berangkat kerja, bermandi peluh mencari uang (dalam arti sebenarnya), ikut menagih hutang, pulang ke kantor, ngopi-ngopi, rapat, buat laporan, pulang, nonton idol, dan tidur. Tiga minggu kembali berlalu tanpa ada kabar tentang konser bersama AKB dan JKT. Harapan di hati ini menipis dan berubah menjadi skeptis.

“ya sudahlah mungkin ngga jadi” begitu pikir saya setiap hari. Agak sedih juga, karena mungkin ini pertama dan terakhir kalinya saya nonton konser dan menjumpai sosok yang biasanya hanya saya lihat di layar monitor sebelum tidur. Tapi ya…mau bagaimana lagi. Mau unjuk rasa di depan Istana Negara dan atau Kedutaan Jepang juga rasanya kurang kerjaan dan saya juga terlalu malas untuk itu.

Tapi takdir memang kejam berkata lain. Lagi lagi ponsel saya bergetar selepas kerja. Saya letakkan mie ayam yang sedang disantap (mongomong saya lapar) di kursi sebelah. Ada cuitan dari akun fanbase tentang detail tempat konser, seating plan, dan…pemesanan tiket. Lengkap dengan tautan situs java musikindo (yang sampai sekarang saya masih ga faham kenapa mau maunya mengurus konser ini). Saya lihat seating plan yang ada. Tiket platinum sepertinya menarik mengingat posisinya sangat dekat dengan panggung. Namun tentu saya khawatir dengan harganya…

“pak, saya pulang dulu. Kembaliannya ga usah“, ujar saya ke pak Pii, penjual mie ayam langganan.

Saya berlari kencang menuju tempat parkir. Untuk kemudian memacu mobil sekencang kencangnya menuju rumah. Jam menunjukkan pukul 21.20 saat saya memarkir mobil di garasi. Semua penghuni rumah sudah tertidur. Saya berlari menuju kamar dan menyalakan laptop. Tanpa sedikit pun melucuti seragam kerja. Boro boro, id card saja belum saya lepas.

Saya menuju situs java musikindo, mencari tulisan 48, dan mengetik apa yang seharusnya diketik untuk memesan tiket. Hingga ke giliran pilihan “kasta” tiket. Loh sebentar…apa maksudnya ini? Ternyata harga tiket platinum termasuk terjangkau (bagi saya di masa itu tentunya). Tanpa pikir panjang saya ambil opsi tiket platinum sambil berharap harap cemas. Dan…

im-going

EHHHHHH
EHHHHHH
EHHHHHH

Apa maksudnya ini, Fernando Jose!? Ini bohong kan, Paulina!? TIDAK! Ini nyata! Saya berhasil memesan tiketnya. Sementara salah satu teman saya, yang memesan dengan rentang waktu kurang 10 menit sesudahnya, kehabisan tiket platinum.  Jangan tanya bagaimana perasaan saya saat itu. Antara bahagia terharu tidak percaya semua bercampur aduk layaknya permen Nano Nano. Ekspresi muka saya berubah layaknya lukisan Scream karya Edward Munch.

Ini semua pasti konspirasi wahyudi alam semesta.

Esoknya saya langsung melunasi pembayaran tiket. Sempat cemas karena konfirmasi dari pihak java tidak langsung muncul. Akan tetapi…

real

Pada titik ini saya sudah hampir tidak merasa berada di dunia nyata lagi. Shit is getting real. I’m gonna meet my idol!

13 hari menjelang konser….

(Bersambung)

Advertisements

Author: manusiaplanetnamec

Manusia biasa yang menjalani hidup yang tidak biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s