Fairouz Dan Elegannya Sakit Hati

Fairouz. Entah sejak kapan saya mulai tertarik menikmati karyanya. I’ve heard her name here and there tapi tidak pernah mengusik rasa penasaran saya yang selo ini. Salah satu Twitter persona favorit saya, yang keturunan Lebanon, adalah salah satu penggemar beratnya. As far as say that she’s the one that unite Arabs. Hmm…sebegitu hebatnya kah? Memang dia sepopuler apa sih? Saya pun semakin terusik saat salah satu kolega, yang berasal dari Saudi, suatu hari berkata “you have to listen to Fairouz’s song, all of it“.  Akhirnya rasa penasaran saya pun tak terbendung. Saya membuka katalog musiknya di Spotify dan menyimpan semua lagunya di katalog musik saya.

Oh sebelumnya lebih baik saya jelaskan. I’m not talking about her

cw9fiy-usaa34hd

Atau ini….

62_c_slide_20160520-141135_fayrouz-banner-bawah-ok

I’m talking about her

tumblr_mjp9livzip1qgva9vo2_1280

 Terlahir dengan nama Nouhad Waddi Haddad di Lebanon 81 tahun lalu, Fairouz merupakan bintang terbesar di Jazirah Arabia. Sejak pertama kali melihatnya,saya mafhum mengapa dia populer. Dengan muka tirus, tulang pipi tinggi, mata yang besar, dan tatapan sayu nan sendu, bagi saya Fairouz is a classic beauty alias tipe ku banget. Tapi yang membuat ia menjadi legenda adalah karena keindahan suara dan musiknya yang everlasting.

Nouhad, yang seorang Kristen Ortodoks, mengawali kariernya sebagai anggota paduan suara di sekolah pada dekade 40-an. Ia kemudian menimba ilmu di conservatory wlau sempat ditentang ayahnya. Bakat Nouhad, yang mampu membawakan nada khas Arab maupun nada musik Barat dengan sama baiknya, diketahui oleh Halid El Roumi (ayah dari penyanyi Majida El Roumi), yang memintanya untuk menyanyi di radio. Di sinilah Nouhad memilih nama Fairouz, yang berarti biru toska, sebagai nama panggungnya. Sejak itulah kariernya, yang membentang selama lebih dari 6 dekade, berawal.

Fairouz menikah dengan Assi Rahbani, seorang komposer, di tahun 1955. Bersama dengan Assi dan Mansour, adiknya, Fairouz memulai revolusi di dunia musik Arab. Trio ini merombak, mengubah pakem, dan memadukan elemen musik Arab dan Barat. Musik Arab pada masa sebelumnya terkenal dengan durasinya yang sangat panjang. Misalnya, lagu Alif Laila wa Laila dari Umm Kultsum yang berdurasi 1 jam lebih. Fairouz mendobrak pakem ini dengan lagu-lagunya yang berdurasi sekitar 3-5 menit, layaknya lagu modern. Lagu-lagunya juga kerapkali memadukan unsur orkestra Barat dan elemen musik Arab, seperti oud (gambus) dan suling.

Sepeninggal Assi, Fairouz melanjutkan karier bermusiknya bersama Ziad, anak sulungnya. Bersama Ziad, warna musik Fairouz kini makin mengarah ke jazz dan segala variasinya. Ziad, seorang jenius yang memulai kariernya sebagai komposer sejak umur 16 tahun, pula yang mampu mengubah tema lagu lagu ibunya. Masih berkisar tentang cinta tentunya, tetapi lebih pada sakit dan pahitnya cinta. Tentang bagaimana pedihnya dikhianati. Atau tetang sakitnya ditinggalkan orang yang dicintai. Atau tentang kesetiaan yang harus dibayar dengan nyawa.

Jadi menye-menye dong? Di sini lah Fairouz menunjukkan kualitasnya sebagai diva kelas dunia. Dia memang dikaruniai bakat suara yang di atas rata-rata, namun lebih dari itu, Fairouz dapat mengekspresikan perasaannya dengan sangat baik. Kesedihan, sakit hati, dan kehancuran hatinya ia suarakan sepenuh hati dan mampu menembus batas bahasa, budaya, negara, maupun batas batas lainnya. Saya tidak sepenuhnya faham bahasa Arab, apalagi dialek Lebanon, namun saya dapat merasakan kepedihan yang disampaikan oleh lagunya.

Rasa penasaran pun mendorong saya untuk mencari lebih lanjut tentang lirik lagu lagu Fairouz, terutama semenjak ia bekerja bersama Ziad. Googling singkat membawa saya menemukan terjemahan lirik Kifak Inta, salah satu lagu yang tidak akan membuat saya bosan walau didengarkan seharian.

كيفك قال عم بيقولوا صار عندك ولاد

أنا و الله كنت مفكّرتك برّات البلاد

شو بدّي بالبلاد

الله يخلّي الولاد

إي كيفك إنت ملّا إنت

How are you? They’re saying you have kids
I swear I  to God! I thought you were going abroad
What do I want with this country?
May God bless your kids
Hey!! How are you? Dear you!?

Saya tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata, tapi seruan Wallah! yang ia ucapkan di lagu itu betul betul menohok. Kita bisa merasakan keputusasaan, penyesalan, kepedihan, kemarahan, segala macam emosi bercampur aduk di situ. Hanya dengan satu kata, Wallah!, Fairouz menyampaikan semua itu. Walau begitu kita melihat paradoks di kalimat sesudahnya. May God bless your kids, sosok yang tersakiti ini masih menyampaikan doa dan memohon keberkahan bagi anak-anaknya. I thought it’s freaking cool. Menyampaikan sumpah serapah tentunya sudah biasa, tetapi mendoakan kebaikan? Itu jarang kita temukan. Semuanya dibalut dalam suara Fairouz, yang dalam dan rendah, yang menambah keanggunannya dalam menyampaikan rasa sakit hatinya.

Atau mari kita tengok lagu yang lain, Addesh Kan Fi Nass,

قديش كان في ناس

عالمفرق تنطر ناس

و تشتي الدنيي و يحملو شمسية

و أنا بأيام الصحو ما حدا نطرني

Oh how many people there were
On the corner waiting for others
And it would rain
And they would hold umbrellas
But no one would wait for me
Even on the clearest days
Alamakk…..
But still, you can hear her pride on it. Saya sangat suka dengan aransemen yang ia bawakan di konser Live At Royal Festival Hall yang digelar tahun 1986. Diawali dengan orkestra dan dentingan piano Ziad, diiringi tepuk tangan penonton, Fairouz mulai bernyanyi, dengan suaranya yang rendah, untuk kemudian meninggi di bagian refrain, dan kembali menjadi rendah di verse ini. Sakit, tentu…, sendiri di tengah keramaian mungkin merupakan hal terburuk yang pernah kita rasakan, namun ia tetap mempertahankan keanggunannya di tengah kepedihan yang melanda. And once again, that’s freaking cool.
Cinta memang deritanya tiada akhir, itu menurut Chu Pat Kay. Bersama Fairouz kita pun akan menyelami betapa pedih dan sakitnya cinta. Namun kita pun diajari tentang bagaimana melalui semua itu dengan elegan dan anggun, seperti yang ia suarakan dalam setiap alunan nadanya. Jika di luar sana kita mengenal Adele, tidak ada salahnya kita sejenak menengok ke Timur dan sakit hati nan elegan bersama Fairouz.

  

Advertisements

Author: manusiaplanetnamec

Manusia biasa yang menjalani hidup yang tidak biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s