Topeng

untitled

Idol. Mereka adalah sekumpulan makhluk yang membuat saya rela menghabiskan banyak waktu di depan layar komputer maupun ponsel. Idol. Sekumpulan orang yang mampu membuat nada bicara saya menjadi bersemangat dan berapi-api. Idol. Sosok yang mampu membuat pandangan saya yang selalu sayu menjadi berkilat dan menggebu-gebu.

Idol. Bagi saya sosok mereka bagai dua sisi mata uang. Saya akan lari ke mereka saat saya butuh hiburan. Saat semua masalah di dunia nyata terasa mbundet dan bikin nyesek tapi saya harus selalu bisa tersenyum di hadapan orang lain. Namun tak jarang, pihak yang menjadi pelarian saya ini malah membuat saya semakin terpuruk. Yang tentu saja membuat hidup semakin ribet. Saya tak pernah menangis untuk diri saya sendiri, tapi entah sudah berapa banyak air mata tertumpah untuk orang orang yang bahkan tidak tahu keberadaan saya di dunia ini *ketawa miris*.

Some of them are my role model too, terutama sosok yang saya pampang di wallpaper laptop. Shinoda Mariko namanya, fans nya menyebut nya Mariko-sama, saya sendiri menyebutnya dengan Mba Mar. Sosok ini setahun belakangan adalah wallpaper di laptop saya. Apakah dia kenal saya? Otentu tidak. Jangankan kenal, di notis saja tidak.

Kamu ga mau ganti wallpaper, May?” ujar Bu Nana, dosen saya, saat saya bersiap presentasi di mata kuliah beliau semester lalu. Saat itu saya hanya terdiam sejenak, antara tidak tidur semalaman dan memikirkan jawaban. “kayaknya ngga sih, bu…ga tahu deh entar hehe” saya terkekeh sambil mencari bahan presentasi.

Saya kagum dengan sosoknya. Sosok yang merangkak dari bawah, bekerja keras, dan menuai kesuksesan. Cantik? Wah, untuk yang satu ini jangan suruh saya untuk menjabarkannya, anda akan mendengar kalimat self deprecating dari mulut ini. Mulai dari “remah remah gorengan di meja” hingga “sebutir debu di alam semesta” akan saya utarakan.

Tapi ya, Mariko, di banyak waktu, adalah pemberi energi hidup saya yang gini gini saja. Di saat saya lelah karena harus bekerja 12 jam setiap hari, saya selalu menyempatkan waktu untuk menengok akun Twitter nya. “oh mariko udah kerja dari 6 jam lalu” misalnya. Dan saat saya pulang ke rumah, dia belum memperbaharui statusnya. Artinya? Dia belum pulang (mungkin). Antara dia mau ke mana dan sama siapa itu terserah dia, tapi kemungkinan tersebut sudah cukup membuat saya bersemangat. Di saat tekanan kerja mulai menggila, di saat target bulanan semakin jauh dari jangkauan, saya selalu mewanti wanti diri ini “Mariko sebelum terkenal tinggal di flat tanpa listrik dan air dan harus nanem sayuran kalau mau makan“.

25255bunset25255d
Mariko-sama, cintaku, inspirasiku.

From zero to hero. Narasi yang indah bukan? Bayangkan, sosok wanita cantik, anak penjual ramen dari pinggiran Fukuoka (bahkan desa kelahirannya sudah hilang, digabung dengan desa yang lebih besar), yang datang ke Tokyo seorang diri dengan uang pas-pasan. Gagal audisi karena keretanya terlambat datang. Ia mengawali karirnya sebagai pembagi brosur di pinggir jalan, lalu menjadi pegawai kafe, sembari melihat sosok sosok member dari kejauhan. “Dunia yang sungguh dekat, namun juga sangat jauh di luar jangkauanku” ungkapnya suatu hari. Ia kemudian diterima melalui audisi khusus, setelah 4 hari berturut turut mempelajari lagi-lagu AKB. Tiga tahun setelah debutnya, Mariko terpilih menjadi model eksklusif majalah More. And the rest is history. Ia menjadi senior yang dikagumi juniornya, menjadi idola gadis gadis muda, dan idaman setiap pria. Setelah lulus dari grup di tahun 2013, Mariko mencoba peruntungan di dunia akting dan ia kini sudah bekerja dengan sutradara papan atas Negeri Sakura, salah satunya Sion Sono dan Takashi Miike.

Shinoda Mariko, seorang gadis miskin dari pelosok Fukuoka itu kini menjadi bintang di Negeri Sakura. Sebuah trajectory yang sungguh ideal dan memotivasi. Bagi saya perjalanan hidup Mariko jauh lebih memotivasi dari tayangan Golden Ways atau tayangan sejenisnya.

Tapi dunia ini panggung sandiwara. Begitu kata Ahmad Albar. Dan idol adalah dunia yang penuh kefanaan. Anda bisa merujuk pada arti harfiahnya. Patung. Sesuatu yang dipuja. Untuk bisa dipuja tentunya mereka harus terlihat sempurna. Topeng. Di balik gemerlap lampu panggung, kehidupan glamor, maupun gerak gerik langkah mereka, ada satu (atau lebih) aspek yang disembunyikan.

Dan saya sadar akan hal itu. Love ban rule? Saya akan ketawa kalau ada yang bilang begitu. Seseorang seperti Kojima Haruna, misalnya, tidak mungkin belum memiliki seseorang dalam kehidupan pribadinya. Atau jika memang tidak punya itu bisa jadi bukti profesionalitasnya. And I’ll respect her..

Idol adalah kefanaan? Tentu saja. Tidak semua yang anda lihat itu nyata. Chara, itu adalah koentji, boeng! Dan chara akan bersinergi dengan topeng dan facade yang ditampilkan oleh para idol.

Bicara tentang topeng, saya ingin menarik kita ke beberapa dekade lalu. Tepatnya pada sosok Okada Yukiko.

25255bunset25255d1

Manis, kan? Dengan senyum innocent yang akan memikat hati siapa yang melihatnya. Tidak hanya itu, Yukko, begitu ia biasa disapa, adalah idol yang menanjak karirnya di pertengahan dekade 80-an. Belum selevel Matsuda Seiko atau Nakamori Akina tentu saja. But given time, she SHOULD be.

Karir Sato Kayo alias Okada Yukiko bermula saat ia menjadi pemenang Star Tanjou! sebuah ajang pencarian bakat di Nippon Television di tahun 1983. Impian Sato, yang sudah bercita cita menjadi idol sedari kecil, terwujud. Setahun kemudian ia merilis debutnya, “First Date”, sebuah lagu manis dengan melodi yang easy listening tentang cinta SMA gubahan Takeuchi Mariya. Debut Sato, atau Yukko, begitu manis. Tawaran iklan, pemotretan, dan raihan penghargaan ia peroleh. Sebuah debut idaman bagi siapapun yang bercita-cita mencicipi dunia hiburan.

Kepopuleran Yukko makin menanjak saat ia merilis singel singel selanjutnya, “Little Princess”,dan “Dreaming Girl, Koi Hajimemashite”, yang sama sama diciptakan oleh Takeuchi Mariya dan bercerita tentang cinta semasa SMA. Judul terakhir juga mengantarkan Yukko sebagai pemenang Best New Artist di Japan Record Award, ajang musik paling bergengsi di negeri Sakura(i Reika).

Di tahun 1986, Yukko merilis singel “Kuchibiru Network”, sebuah singel spesial yang liriknya ditulis Matsuda Seiko (idol legendaris) dengan aransemen dari Sakamoto Ryuichi (komposer legendaris). Warna singel ini berbeda, terkesan dewasa walau tetap ada sentuhan innocent dalam suara Yukiko. Tapi perubahan ini disambut baik, Yukko menduduki ranking pertama chart Oricon untuk pertama kalinya. Di Februari 1986.

Dua tahun setelah debut. Dan nama serta wajah Yukko terpampang di seantero Jepang. Yukko hidup dalam kehidupan yang dia idamkan selama hidupnya. Could it be more perfect?

25255bunset25255d2
Nope

8 April 1986, Yukko ditemukan oleh manajer nya di apartemen nya. Meringkuk di pojok lemari, dengan tangan yang penuh sayatan. Dalam ruangan yang diisi gas. Sang idola yang selalu tersenyum itu ingin bunuh diri…

Ia dibawa ke kantor Sun Building, label dan manajemen yang membawahinya.  Pihak manajemen berusaha menenangkan Yukko. Dan berhasil, untuk sementara. Yukko ditinggalkan dalam sebuah ruangan. Dan entah apa yang terjadi. Mungkin ia kembali dalam pemikirannya. Di mana ia harus menghadapi dunia hiburan, yang terkadang kejam, sangat kejam, kembali. Mungkin ia ingin kembali ke kehidupan normalnya, yang sudah tidak mungkin terulang kembali. Mungkin ia butuh teman, untul sekedar berkeluh kesah (Yukko tinggal terpisah dari orangtua maupun artis selabel nya). Atau…entahlah, namun ia akhirnya sampai pada satu keputusan…

8 April 1986. Pukul 12 lebih 10 menit. Okada Yukiko, sang idola yang sinarnya terang, yang selalu tersenyum, melompat menjemput ajal dari lantai tujuh. The always smiling idol itu tergeletak tak bernyawa. Tubuhnya terbujur kaku di pelataran beton pedestrian. Usianya baru 19 tahun…

30 tahun setelah kematiannya, misteri Yukko (yang memancing fenomena bunuh diri di kalangan fans nya, dikenal dengan nama Yukko Syndrome) belum terungkap. Tapi mungkin…mungkin…Yukko lelah dengan topeng yang selama ini harus ia pakai. Selalu tersenyum di saat hatinya hancur. Selalu ceria walau tak ada tempat bercerita. Dan ada satu masa di mana ia harus mengakhiri semua itu. Dengan kematian.

Tentu saja idol masa kini masih menggunakan topeng, walau mungkin bukan topeng yang sama yang dikenakan Yukko. Apalagi saat Akimoto Yasushi mengonsep AKB48 dengan konsep ketidaksempurnaan, yang membuat fans merasa “lebih dekat” dengan idolanya. Tapi tetap saja, itu pun topeng. Sifat asli mereka bisa jadi berbeda dengan apa yang mereka tampilkan di panggung.

Dan saya? Menyadari hal itu dengan jelas sejelas jelasnya. Namun fakta itu tidak membuat saya berhenti mengidolai sosok gadis gadis tersebut, berkomitmen waktu tenaga dan perasaan untuk orang orang yang (mungkin) tidak akan pernah saya temui. Sinting? Ya, dan inilah yang dikenal sebagai fans, atau dalam dunia idol, wota (but I’m not a wota…yet).

Intinya, Stay calm and keep URYAOI!

Advertisements

Author: manusiaplanetnamec

Manusia biasa yang menjalani hidup yang tidak biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s