[REVIEW] Jossy’s: Karena Ranger Ranger-an Sudah Terlalu Biasa

joshizu-p1

Judul: 女子ーズ (Jossy’s/Joshi-zu)

Tahun rilis: 2014

Sutradara: Fukuda Yuichi

Pemain: Kiritani Mirei, Fujii Mina, Takahata Mitsuki, Arimura Kasumi, Sato Jiro.

Durasi: 97 menit.

Semua berawal saat saya menonton cuplikan The Godfather Part II di YouTube dan entah kenapa situs ini menyertakan rekomendasi video (yang nampaknya) film dari negeri Sakura. Karena penasaran, saya coba menontonnya.

“Wahahahaha wahahahaha wahahaha!” Itu komentar saya setelah menonton trailer ini. Sembari mengambil inhaler karena terlalu banyak tertawa. Saya memutuskan untuk mencari tahu tentang film ini. Melihat gaya humor nya yang sangat receh dan properti yang sarat dengan kesan low budget, saya curiga ini film garapan Fukuda Yuichi. Hasil Googling singkat membenarkan dugaan saya, ini merupakan karya Fukuda.

Jossy’s atau Joshi Zu menceritakan lima wanita yang menjadi pahlawan pembela kebenaran (saik!). Mereka adalah Akagi Naoko (Kiritani Mirei), Aota Mika (Fujii Mina), Kikawada Yuri (Takahata Mitsuki), Konno Sumire (Yamamoto Mizuki), dan Midoriyama Kano (Arimura Kasumi). Kelima wanita ini dipilih karena nama keluarganya. Ya, betul, pemuda pemudi sekalian, mereka memiliki unsur warna dalam marganya (Akagi = Red Tress, Aota = Blue Meadow, Kikawada = Yellow Rivers, Konno = Navy Fields, dan Midoriyama = Green Mountain). Kelima wanita ini dikumpulkan oleh Zordon Charles (Sato Jiro) dan diberi nama:

Jossy’s alias Joshi Zu

Mengapa? Karena pasukan pahlawan dengan nama “Ranger” sudah terlalu banyak. Singkat kata, Joshi Zu pun bertarung melawan monster monster dan mempertahankan kedamaian di muka bumi. Untuk melawan monster, laskar Joshi Zu dibekali sebuah jurus andalan yaitu Jossy’s Tornado. Jurus ini hanya bisa dikeluarkan saat ada kelima personil nya.

Mampukah Jossy’s mengalahkan monster monster itu!?

Dapat kah Jossy’s mempertahankan kedamaian di muka bumi!?

Jossy’s alias Joshi Zu adalah sebuah film yang memparodikan genre “super sentai” atau yang biasa dikenal dengan seri Power Ranger dan ranger ranger yang lain. Maka dari itu kita akan familiar dengan kostum yang dikenakan para renjer personil Jossy’s dan unsur unsur yang lumrah ada di serial superhero superheroan. 

Tidak hanya unsur parodi, film ini juga membawa ciri khas Fukuda yang lain. Produksi yang terkesan sangat low budget, misalnya. Unsur ini kental terasa sepanjang kita menonton film ini. Adegan pertarungan yang yaelah di situ lagi di situ lagi, kostum para renjer Jossy’s dan monster yang seadanya serta minimnya efek spesial menambah kesan low budget yang memang menjadi ciri khas karya Fukuda. Mungkin budget nya habis untuk desain opening maupun membayar bintang-bintang papan atas yang turut andil di film ini.

Dan seperti karya karyanya yang lain, Fukuda pun menghujani film ini dengan humor bergaya hhh-ini-apa-sih-kok-receh-garing-tapi-lucu-juga-hahaha yang diselipkan secara cerdas dan terstruktur sepanjang film. Bayangkan satu rangkaian seri stand up comedy berdurasi panjang dengan set yang berganti-ganti. Itulah yang dilakukan Fukuda di film rilisan 2014 ini.

Tentu saja jika anda familiar dengan karya Fukuda dan dunia super sentai akan lebih memudahkan mencerna humor dan parodi yang ada di film ini. Namun bukan berarti Anda tidak bisa menikmati jika baru menonton film ini untuk pertama kali.

Jossy’s juga tidak hanya sekedar film parodi. Di sini Fukuda nampaknya ingin menyelipkan pesan girl power dan menyentil kontruksi masyarakat patriarki yang ada di masyarakat Jepang dan Asia (kalimat ini sengaja dimasukkan agar terlihat intelek). Wanita di sini berperan sebagai pahlawan, dalam arti harfiah. Mereka bukanlah pihak yang perlu dibela ataupun dalam posisi yang lemah, ini kontradiktif dari pandangan misogynist yang, kita akui saja, masih dominan di masyarakat. Di sini wanita tidak diposisikan sebagai pihak yang inferior, mereka sangat cakap dalam bidangnya. Sementara pria digambarkan sebagai yang plin-plan, peragu, mencla-mencle dan tidak dapat diandalkan. Sure, ada Zordon Charles sebagai sosok yang superior, tapi Charles tidak lebih bisa diandalkan dibanding Jossy Merah dalam hal kepemimpinan.  Kalau belum cukup jelas, lihat saja lirik lagu pembuka nya (beneran ada lagu macam GoRanger)

Run run, Jossy’s!

Go fight, Jossy’s!

Leave the pussy men behind!

Forget the damned kitchen!

Don’t cut veggies, cut the monsters!

Go kicked those clueless monsters

Back into space!

Jossy’s juga menampilkan konsep antihero dalam ceritanya. Hampir semua elemen yang ada di tayangan super sentai/tokusatsu/superhero dibabat habis oleh Jossy’s. Semua disajikan dengan gaya parodi khas Fukuda yang cerdas dan menohok. Unsur product placement alias pesan sponsor yang sering ada di serial super sentai pun tidak luput dari sentilannya dengan memasukkan dialog tentang Febreze dalam adegan pertarungan melawan monster Kutu Busuk. Ya, adegannya memang wagu dan ga jelas banget, tapi jika kita tahu konteks dan latar belakang dari adegan itu, kita akan terpingkal-pingkal.

Unsur antihero kembali terlihat jika kita melongok realisme yang coba diajukan Fukuda. Jossy’s bukan hanya sekedar melawan monster monster jahat dari luar angkasa, tapi mereka adalah manusia dengan kehidupan normal. Bekerja, mencari hiburan, minta bayaran, atau memanjangkan bulu mata, misalnya. Mereka di satu waktu harus memilih antara kehidupan pribadi nya atau keselamatan Planet Bumi. Spoiler: Keselamatan Bumi tidak selalu menjadi prioritas utama.

vlcsnap-2016-11-26-12h50m13s197

vlcsnap-2016-11-26-12h51m40s43

vlcsnap-2016-11-26-12h51m43s76

 

Dari segi akting, Fukuda berhasil mengarahkan bintang-bintangnya untuk bermain sesuai dengan yang ia inginkan, dengan hasil yang membuat saya geleng geleng kepala sepanjang film. Kiritani Mirei mampu menampilkan sosok Akagi yang selalu serius dan berdedikasi pada pekerjaannya namun ia juga mampu menampilkan ekspresi komikal secara brilian. Favorit saya adalah ekspresi “NANI!?” yang sering ia tampilkan di film. Fujii Mina yang identik dengan sosok yang lembut dan feminin di sini disulap menjadi sosok yang banyak bacot dan nyinyir. Fujii sendiri dikenal sebagai fans dari Hallyu Wave dan fakta ini juga diparodikan di Jossy’s. Yamamoto Mizuki sebagai Sumire tidak terlalu berbeda dengan tipe tipe peran yang ia lakoni selama bekerja bersama Fukuda (di Aoi Honoo dan Yuusha Yoshihiko ), wanita kaya yang sepanjang film sepertinya magabut doang. Namun adegannya dengan Kimihiko Domyoji mampu menambah kesan (((dramatis))) nan komikal. Imej Arimura Kasumi sebagai gadis mellow pada benak saya hancur di film ini. Midoriyama adalah sosok yang lebay dengan akting yang lebay pula. Is it a bad thing?  Tidak, karena karakter Midoriyama adalah (calon) aktris theater walau cuma jadi pohon.  Terakhir, Takahata Mitsuki berhasil membawakan Kikawada yang super miskin, berorientasi pada duniawi uang, dengan ekpresi muka datar yang sangat marmos (marahi emosi = bikin emosi). IMO, aktingnya adalah yang paling brilian di film ini.

Jossy’s adalah film brilian. Satu dari sekian sedikit judul film yang berhasil membuat saya terpingkal pingkal sepanjang durasinya. Ya, gaya humor Fukuda memang hit and miss, namun selera humor saya yang receh dan sangat rendahan membuat saya benar-benar menikmati film ini.

Terlalu banyak adegan berkesan di film sepanjang 97 menit ini. Namun jika saya harus memilih, adegan Jossy Kuning di bawah jembatan adalah pemenangnya…

vlcsnap-2016-11-26-13h00m32s243

vlcsnap-2016-11-26-13h00m37s35

Saya nyesel nonton adegan itu sampai selesai 😂😂😂

 

Ya intinya adalah…

vlcsnap-2016-11-23-16h22m49s146

vlcsnap-2016-11-25-11h02m52s248

Advertisements

Author: manusiaplanetnamec

Manusia biasa yang menjalani hidup yang tidak biasa

1 thought on “[REVIEW] Jossy’s: Karena Ranger Ranger-an Sudah Terlalu Biasa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s